menakar wanita dalam karya yovie widianto

Maret 20, 2007 at 4:09 pm Tinggalkan komentar

“Gilaa… puas banget gue!” pekik seorang wanita kepada temannya –
yang juga wanita, usai menyaksikan pagelaran The Magical Journey of Yovie Widianto, 14 September lalu di Plenary Hall, JCC, Jakarta . Sang teman pun tak kalah antusiasnya menimpali pertunjukan yang memakan waktu hampir tiga jam tersebut. Sepintas dari penampilannya, usia mereka dikisaran angka 28-30 tahun-an. Usia rata-rata dari penggemar pria asal kota kembang Bandung ini. Ekspresi semacam itu menjadi pemandangan lumrah dalam pertunjukkan yang menandai 23 tahun kiprah Yovie di dunia musik tanah air, Kamis malam lalu.

Merunut ke belakang, tatkala tembang Cerita Cinta (1995) meluncur di pasaran, dipastikan mereka adalah gadis-gadis cantik yang baru tumbuh remaja. Lazimnya remaja usia belasan, asmaradana merupakan warna baru dalam kehidupan mereka. Lawan jenis menjadi topik pembicaraan yang paling aktual di masa-masa seperti itu. Dan sebuah lagu tentunya menjadi pelengkap keriangan memasuki dunia cinta. Di situlah Yovie Widianto bersama Kahitna hadir mengguratkan kesan yang tak mudah terhapus lewat lagu-lagunya.

Dan ketika trio Hedi Yunus, Carlo Saba dan Ronny Waluya tampil dipenghujung acara membawakan Cerita Cinta, pendulum waktu seperti melempar penonton ke paruh dekade 90-an itu. Gemuruh applause 3000 pasang tangan mengisaratkan terjadinya lompatan memori kolektif sebagian besar penonton yang didominasi kaum hawa tersebut.

Yovie Lahir Untuk Wanita

Musik tentu saja tak pernah dipilah dalam perspektif gender. Tapi premis itu sepertinya gugur seketika, begitu mendengar lagu-lagu yang lahir dari tangan pria berusia 36 tahun tersebut. Bukan saja karena liriknya yang kebanyakan menyangjung- puja wanita, juga lantaran untaian nada yang dipilihnya menyiratkan kehalusan rasa seorang wanita. Dan itu bukan tak disadari Yovie.

“Yovie & The Nuno membuat saya jadi memiliki banyak teman pria,” katanya di atas pentas. Alumnus jurusan HI Fisip Unpad itu juga mengatakan kalau penonton Kahitna 90% adalah wanita, dan sisanya tak jelas. (Belakangan memang untuk menunjukkan “kelaki-lakiannya’ Yovie membentuk band baru bernama Yovie & The Nuno bersama anak-anak muda yang usianya jauh dibawahnya).

Wanita ditangan Yovie tak sekadar menjadi obyek, melainkan sumber inspirasi yang tak pernah kering. Di kalangan terbatas, hal ini sudah lama menjadi bisik-bisik. Persinggungan rasa Yovie dengan banyak wanita cantik (umumnya artis dan selebriti), baik sebelum maupun setelah menikah memang terbukti melahirkan karya-karya yang memikat dan diminati. Dalam sebuah perbicangan di tahun 2000, Carlo Saba menilai bahwa puncak kreatifitas Yovie terjadi ketika sahabatnya itu menjalin kasih dengan Marina . (Marina adalah model videoklip Cerita Cinta, 1995 dan Cantik, 1997).

Dan Yovie pun tak menampik nama-nama seperti Maudy Koesnaedy, Cut Tari, Happy Salma dan Bunga menjadi bagian dari perjalanan karya-karyanya. “Dan ada seorang wanita di luar sana . Tapi biarlah itu menjadi bagian dari exclusive diary saya,” kata Yovie setelah sebelumnya disindir Tika Panggabean, Hedi Yunus dan Sita RSD, yang menjadi mc ditengah acara.

Keajaiban Yovie Widianto

Dalam hitungan menita sebuah lagu baru lahir di tengah konser yang juga dihadiri guru musik Yovie, Elfa Secoria. Tiga not (si-la-re) dan tiga kata; maaf, manis dan selingkuh yang dipilih penonton dirangkai Yovie menjadi sebuah lagu baru yang malam itu dibawakan Hedi Yunus.
Maafkan kekasih tercinta
Maafkan ku tak bisa lagi
Maafkan kekasih tercinta
Tak ada cinta lagi
Meskipun terasa manis
Tetapi harus kita akhiri
Meskipun terasa Indah
Selingkuh tak membawa bahagia
Dalam urusan menggubah nada, Yovie memang mumpuni. Sejumlah lagu hit lahir dari tangannya dan dinyanyikan banyak penyanyi. Tak salah kalau dia dijuluki sebagai hit maker.

Pada penampilannya Kamis lalu itu, Yovie ditemani sejumlah nama tenar seperti Audy, Dea Mirella, Arman Maulana, Rio Febrian, Sita Nursanti (RSD), Gail dan Dudi (Nuno), Hedi Yunus, Mario dan Carlo Saba (Kahitna), Ronny Waluya dan Steven alias Tepeng (Scope dan Steven & Coconut Treez).

Selain rombongan penyanyi beken tadi diboyong juga para musisi kawakan seperti Henry Lamiri (biola), Iwan Wiradz dan Syarif (perkusi), Kadek Rahardika dan Eddie Kemput (gitar), Ari Dharmawan (bas), serta 14 musisi orkestra.

Meski mengaransemen ulang lagu-lagunya dalam balutan rock ala Yovie (Satu Mimpui, Arman Maulana) dan bahkan reggae (Katakan Saja, Stven), namun ia tak beranjak dari konsep big band seperti yang selama ini ia lakukan bersama Kahitna. (*)
[Sebagian prestasi Yovie Widianto : The Best Composer 1991 di Taiwan, Grand Prix Winner Band Explosion 1987 (Kahitna), Band Explosion Toyo-Japan (1986), Band Explosion Tokyo-Japan 1991 (Kahitna), Indonesia 6 (Elfa Music Studio) 1986-1990, Kahitna Singer 1983-1986, Founder and Leader of Kahitna 1986 sampai sekarang.]

17/09/06

Entry filed under: resensi. Tags: .

menyusun kembali serpihan ingatan sedikit seuriues euy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2007
S S R K J S M
    Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: