menyusun kembali serpihan ingatan

Maret 20, 2007 at 4:05 pm 2 komentar

Menyusun Kembali Serpihan Ingatan

Dulu sekali. Tepatnya tahun 1989. Sekitar 164 km dari Jakarta , sebuah kecamatan bernama Pamanukan. Sebuah tabloid baru tampil dengan cover Iwan Fals yang sangat memikat. Citra. Demikian selintas terbaca nama tabloid itu. Belakangan setelah dicermati ternyata bernama Citra Musik. Ada perasaan luar biasa ketika membuka lembar per lembar isi tabloid yang ternyata merupakan edisi kedua (edisi pertama bercover Rhoma Irama). Bukan apa-apa di sebuah kota kecil seperti Pamanukan, informasi tentang musik lewat sebuah tulisan adalah hal yang sungguh langka. Beberapa edisi majalah HAI memang sempat mampir. Itupun tak bisa rutin.

Perkenalan pertama dengan Citra Musik edisi 2 telah membawa cakrawala baru terhadap musik sebagai sebuah kesenian sekaligus komoditi. Jika sebelumnya musik monopoli telinga, dan sesekali memainkannya dengan gitar, kemudian berubah menjadi sebuah topik perbincangan menarik. Setidaknya ada modal baru buat sekadar gaya di depan teman-teman, saat berbicara soal musisi tertentu. Merasa paling tahu, dan rada-rada sok jago.

Ada yang menarik dari persentuhan tersebut. Dari situlah pertama-tama mengenal nama-nama seperti Hans Miller Banureah, Remy Soetansyah, dan Marcel Hartawan.

Tentang Hans Miller. Yang terbayang ketika membaca namanya adalah sosok lelaki paruh baya (macam Slamet Abdul Syukur ketika itu), seorang wartawan senior yang juga kritikus musik. Yang kedua sebuah tulisan pengantar redaksi yang mengulas soal penampilan Tommy Page saat tampil di tanahair. Kadir Pun Bisa Menyanyi. Demikian judul tulisan tersebut. Memang waktu itu Kadir (pelawak) sempat juga memiliki lagu yang dinyanyikannya.

Tentang Remy Soetansyah. Namanya sering ketuker-tuker dengan nama budayawan Remy Sylado. Sehingga waktu itu sulit merekontruksi profilnya dalam imajinasi. Cuma yang dingat saat membaca namanya di box redaksi adalah kalimat, “Ooh, dia juga ada di sini.” Itu saja. Nama Remy Soetansyah memang lebih familiar di mata dan telinga ketika itu.
Tentang Marcel Hartawan. Sosoknya menjadi lekat diingatan gara-gara tulisan Hans Miller di pengantar redaksi. Kami Pun Punya Rokcer. Kira-kira begitulah judulnya. Sosok Marcel, fotografer muda bertubuh ceking dan berambut gondrong diinterpretasikan dalam tulisan itu tak ubahnya seorang rocker. Bahkan untuk sekadar menyetop taksipun menggunakan salam tiga jari (metal). Dari itulisan itu juga pengetahuan tentang apa itu salam tiga jari menjadi kebanggan tersendiri di mata teman-teman SMA saat itu. Disinggung juga kalau salam itu ada yang menterjemahkannya sebagai bayangan kepala setan.

(Di kemudian hari, rupanya pendulum nasib membawa ketiga nama itu dalam persentuhan spirit, ide dan kreatifitas. Dan bisa jadi persentuhan nasib).

Sayang kegairahan membaca dan memperbicangkan musik lewat Citra Musik tak berumur panjang. Nasibnya dikubur secara paksa ketika tabloid Monitor, yang merupakan induk dari Citra Musik dibreidel. Eksistensi Citra Musik yang sempat digadang-gadang sebagai pengganti majalah musik Aktuil berakhir sudah. Nasib buruk Citra Musik ini menjadi tradisi buruk tabloid atau majalah musik lainnya yang muncul belakangan. NewsMusik relatif lumayan bertahan lama. Begitupun dengan tabloid Mumu. Tabloid Dangdut berumur pendek. Tabloid ROCK, yang kebetulan dibidani Hans Miller dan Remy Soetansyah, nasibnya setali tiga uang dengan Citra Musik.

Ketika tahu bahwa Citra Musik coba dihidupkan lagi dengan wahana berbeda, itu cukup menggelitik ingatan kembali ke masa-masa dulu. Saat masih jauh dari peradaban industri musik. Spirit Citra Musik yang sempat terekam dalam ingatan memberikan harapan agar “nasib buruk” tempo hari terputus dengan bergantinya wahan untuk menuangkan kreatifitas. Kendati Musikmu.com, Musikkamu.com dan Musickita.com tak juga bernafas panjang. Tapi, tidak ada salahnya kan berusaha terus? (*)

15/09/06

Entry filed under: gumam. Tags: .

ulang tahun menakar wanita dalam karya yovie widianto

2 Komentar Add your own

  • 1. dudirock  |  Maret 20, 2007 pukul 4:06 pm

    Wah, gw jadi terharu bacanya. Ada kenostalgiaan, ada angin kegagalan, tapi ada juga sedikit harapan. Paling gak Dud’s menyiratkannya.
    Tapi disisi lain, gw suka untuk tidak menghiba-hiba pada harapan yang terkubur. Semua yang terjadi gak mau gw pendem sebagai sebuah “Och, sasa depanku yang tenggelam.”
    Dud’s kalaupun lu memulai dengan Ler dan gw, begitupun gw, bagaimana gw suka ngeliat alm Denny Sabri atau Buyunk dari mulai Aktuil, sehinnga gw terlecut untuk berenang di dunia musik.
    Waktu berjalan, komposisi mengalir, dan gw tergulung dalam harmonisasi semuanya, ya gw nikmati aja.
    Sebagai sebuah sejarah, gw pernah di Aktuil, walau saat di meregang nyawa, lalu ke Vista, Citra, dan Rock. Kalaupun semuanya sirna, gw gak peduli bener, karena gw harus tetap mencoba memberi sesuatu kepada dunia musik, seperti dunia musik memberi gw segalanya.
    Nah, gw juga mengharapkan itu nular ke yang lain. Dulu gw mengharapkan Herry dan Yuga waktu di Bintang Indonesia bakal nguber dan nemenin gw, lalu muncul juga nama Dudi Hartono,dan Wendy (Rolling Stone) yang gw harap bakal terjun di media musik secara total.
    Sekarang gw tandem lagi sama Ler, temen gw dari tahun 80, dalam suka dan duka, pernah musuhan, baikan, gontok-gontokan, trus baikan. Kita bertemen justru karena berbeda. Lu tau gw lebih suka ke arah mana, Ler ke arah mana. Bagaimana style dia, bagaimana pola pikir dan kerja gw. Semua berbeda, tapi tetetp dalam frame musik. Gw pikir kenapa gw bisa tetep jalan sama dia, salah satunya karena dia gak ngarep apa-apa dari gw, dan begitu juga gw. Tapi justru kami sama-sama mengharap kepada tujuan kita. Makanya gw catet: terkenal adalah resiko, bukan tujuan. Kalau bahasa romantiknya begini: Mengawinimu adalah resiko, mencintaimu adalah tujuanku.
    Jadi kenapa gw dan Ler tetep tandem dan akhirnya harus merilis web site Citra Musik, adalah memberi motifasi pada yang lain, agar musik bisa kita nikmati bersama dan menyeluruh. Mencintai musik adalah menghormati naluri.
    Karna kami hormat pada Dudi’s, maka lahirlah web site Citra Musik.
    Salam
    saudaraku

  • 2. dudirock  |  Maret 20, 2007 pukul 4:07 pm

    Kita memang tak pernah mampu dan tak akan mampu melihat apa yang akan terjadi di depan. Termasuk ketika dua tabloid musik ”Citra Musik” dan tabloid Rock meregang nyawa dan dimakamkan. Tapi itulah hidup. Selama nyawa masih menyatu dalam tubuh, kita harus terus ”berharap” dan melakukan apa yang kita anggap bisa.
    Setelah melanglangbuana ke berbagai arah angin, akhirnya ternyata harus berlabuh di dermaga senada. Itu bukan pengulangan, tapi ”harapan can cita’-cita baru”.
    Maka kalau darah menggelegak lagi di dermaga musik, insya Allah, dia bisa bunyi lagi. Bisa memberikan lebih dari apa yang telah diberikan oleh kedua almarhum tabloid sebelumnya.
    Sejenak, membaca keterbukaan Remy, ada haru biru. Tapi karena itu fakta, kita jalani. Harapan selalu ada, dan kalau tidak sekarang, ya, hari berikutnya. Kalau tidak oleh kami, ya oleh kalian, atau siapa saja. Yang pasti, secara jujur kita memang ada di dermaga itu. Yang telah kita bangun sejak lama, dan harusnya kita bisa. Apalagi sekarang, kita tidak begitu digenjot oleh rating sialan itu, dan tidak pula oleh industri ngehek itu. Hahahaa….
    Mari berjabat, berjuang sama-sama dan HIDUP MUSIK! .

    HANS MILLER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2007
S S R K J S M
    Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: