persinggahan

berawal di sebuah kecamatan bernama Haurgeulis di Indramayu. daerah pertanian yang tak begitu subur. lahir dan tumbuh sebagai kanak-kanak pada umumnya. sekolah, bermain sepak bola dan belajar renang di saluran irigasi yang disebut Regasi.

kecamatan terpencil sekitar 23 km dari jalan utama lintas utara pulau Jawa, menjadikan daerah ini tak banyak dikenal. mungkin bagi mereka yang biasa melintasi Jawa lewat kereta api jalur pantura, nama Haurgeulis tak begitu asing. inilah urat nadi persentuhan budaya masyarakat setempat dengan luar.

jauh dari laut, asing dari gunung. ada waduk yang dibangun Belanda untuk mengatasi panen musiman akibat sistem pesawahan tadah hujan. tapi tetep aja, pas kemarau waduk jadi kering kerontang. kadang jadi lapangan sepak bola dadakan.

punya klub sepak bola yang hebat bernama Kompas. hebat! karena cuma sekali kalah dari klub-klub tamu, dari Jakarta sekalipun. punya satu daerah yang dihuni para pencopet wanita yang biasa beroperasi di pasar-pasar tradisional, mengutil baju, kain tapih dan sejenisnya. di kelilingi desa-desa penghasil psk yang banyak beredar di Jakarta.

bangga menjadi bagian murid SD N Haurgeulis I, sering disebut SD Centre. sekolah langganan anak-anak para penggede setempat, seperti camat, dokter, danramil. tapi tak pernah ada anak kapolsek sekolah di situ (?).

kecil dan terpencil, tapi punya tradisi maju dalam soal pendidikan. rata-rata Bandung menjadi tujuan sekolah, pulang-pulang menularkan budaya kota.

tempat yang selalu ramai saat setelah lebaran. banyak orang pulang mudik. anak-anak mudanya giat menggelar halal bi halal di kantor desa yang diisi dengan kegiatan seni. deklamasi, repertoir solo gitar, band, paduan suara sampai tari modren. inilah ajang “anak-anak kota”; Bandung, Jakarta, Cirebon pamer gaya busana dan kreatifitas.

langkah kedua

Pamanukan. sebuah titik di perlintasan jalan utama pantai utara pulau jawa. orang yang biasa menggunakan jalan darat pasti tahu. ada fly over, yang lumayan panjang. bisa ngatasi kemacetan, apalagi pas musim mudik.

daerah kecamatan yang jauh lebih kota ketimbang Haurgeulis. masuk wilyah kabupaten Subang. masih daerah pertanian, tapi juga nelayan. termasuk lumbung padi di tanah air, saluran irigasinya berjalan cukup baik.

ada pantai wisata bernama pondok bali. tiap minggu ramai, terlebih pas liburan nasional. orang-orang dari pinggiran bandung biasanya nglurug ke sana. tapi ironi. pantainya kotor, dan sama sekali nggak bagus. pinggirannya dihiasi rumah kumuh para nelayan yang selalu miskin dari hari ke hari.

pamanukan memang menyimpan banyak kenangan. di sinilah pertama kali mengalami masa pubertas. naksir cewek yang sampai detik ini masih dianggap sebagai bayangan ideal. sayang nggak pernah ke sentuh hatinya. he… he… he…

daerah ini merupakan lumbung emas bagi Kabupaten Subang. penyumbang terbesar buat apbd. daerah kecamatan paling maju, dan keramaiannya melebihi kota subang sendiri. punya yogya swalayan yang bikin susah pedagang kecil. sudah ada diskotek kecil-kecilan.

toko emas, elektronik dan toko pupuk. menjadi tiga putaran utama arus uang di sana. maklum tiga hal itu seolah menjadi kebutuhan para petani. panen selalu beli mas, elektronik atau motor yang sering dijualnya pada masa paceklik. pupuk dan alat pertanian memang kebutuhan wajib petani bukan?

di pamanukan, ada linda arisanti yang spesial banget. sebuah usaha percobaan menuju pelaminan yang gagal. sebuah persinggahan hati yang tak pernah dapat dilupakan. ku tunggu jandamu? hmm… apa iya? ha… ha… ha…

melewati masa remaja yang menyenangkan, sekaligus menyusahkan. masa-masa terpahit kehidupan ekonomi orangtuaku. hampir tak pernah dapat uang jajan, dan yang paling diingat adalah hanya punya dua potong celana panjang sepanjang sma.

langkah ketiga

jakarta menjadi tujuan kehidupan kemudian. lulus sma pergi ke jakarta. numpang di rumah paman. 1992 kuliah di stmik budi luhur, jakarta. ambil jurusan managemen informatika. lulus tahun 2006. sebuah masa studi yang buruk. mampu mengerjakan soal-soal akademis di meja ujian, tapi tak satupun keahlian didapat.

persentuhan di jakarta yang paling menarik adalah hasrat untuk terlibat dalam kegiatan politik kemahasiswaan. bermula dari membaca spanduk tentang kursus singkat jurnalistik dan ppab gmni jakarta raya, mulailah persinggungan dengan dunia ideologi secara intens. kegemaran mengintip di bawah bendera revolusi dan pendidikan sebagai praktek pembebasan menjadi sangat berguna di persinggahan ini.

1 Komentar Add your own

  • 1. VINA  |  Februari 22, 2008 pukul 8:38 am

    ternyata begini toh..asal-usul PP-ku yang jarang mandi itu… mmm… cerita dari desa yang seperti sinetron2 jaman tvri. sayang, kurang diceritakan sisi dramatisnya. coba masukkan juga cerita dari pasar haurgeulis yang membuat om gagal menuju pelaminan bersama perempuan berinisial LA. hehe… pasti lebih seru tuh… makin mengharu biru dan yang jelas… bisa jadi bahan ceng2an di redaksi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d blogger menyukai ini: